Seperti hari-hari biasa saat mengisi waktu luang menyempatkan diri untuk live tiktok sembari menyapa para alumni tempatku mengajar yang memang akupun merindukan mereka. Sambil merajut saat live, muncul di kolom komentar sebuah pertanyaan. ” Bapak, bagaimane menurut bapak tentang seorang anak yang dijodohkan orang tuanya ?”. membacanya sambil tersenyum dan menjawab ” di dalam Islam seorang anak yang tidak pernah menikah maka dianjurkan agar orang tua yang mencarikannya pasangan. Alasannya simpel, karena orang tua lebih berpengalaman dalam berumahtangga dan tidak mungkin orang tua mencelakai anaknya dengan mencarikan jodoh yang tidak baik”. dia bertanya lagi ” Apakah boleh seorang anak menolak dijodohkan ? “. jawabku “boleh saja, selama penolakannya memiliki alasan yang benar sesuai syariat. contoh; menolak perjodohan karena calon tidak melaksanakan perintah dalam agama seperti meninggalkan shalat, perilaku yang tidak baik yang memang kamu lebih mengetahui dari orang tuamu. jika alasanmu menolak karena khawatir rumah tangga tidak langgeng! maka orang berpacaran juga ada yang tidak langgeng rumah tangganya. Artinya langgeng atau tidaknya berumah tangga tergantung bagaimana mindset dan how to pasangan dalam menyelesaikan masalah. intinya komunikasi dengan orang tua dengan baik dan bijaklah dalam mengambil keputusan, orangtuamu tahu apa yang terbaik bagimu dan kamu mengetahui apa yang terbaik bagimu. satukan dulu konsep dalam mencari pasangan antara kalian. visi misi sama, Insya Allah sama-sama bisa nerima”.
Saat ini mungkin perjodohan sangat sulit untuk direalisasikan karena perbedaan zaman dan budaya yang merubahnya. Dulu, orang tua kita kebanyakan dari mereka diperjodohkan, biasanya dijodohkan dengan keluarga yang jarak silsilahnya sudah jauh. contoh; sepupu 3x atau sepupu 4x dijodohkan dan dipertemukan serta diikat dengan pernikahan. Hal ini bertujuan untuk mendekatkan kembali silsilah keluarga. Fakta saat ini, tidak semua anak yang mau dijodohkan. Alasan mereka bermacam-macam; tidak saling kenal, kuatir rumah tangga tidak langgeng dan lain-lain. Sebagai orang tua dan anak yang bijak hendaknya melakukan komunikasi terbuka dan mempelajari tuntunan dalam Islam tentang ta’aruf. Ingat ta’ruf bukan pacaran. konsep dan tata caranya jelas diatur dalam islam. sesuai maka lanjutkan, tidak sesuai maka komunikasikan.
Sebagai orang tua juga harus paham kriteria dalam memilih pasangan untuk anaknya. bukan semata-mata urusan dunia saja, lebih dari itu urusan akhirat juga harus dipahami dari calon yang hendak dijodohkan. Rasul bersabda : “Wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya; maka pilihlah wanita yang taat beragama, niscaya engkau beruntung.” (HR Bukhari)
Kriteria tersebut bisa dipahami mencari pasangan bagi perempuan juga. harta, keturunan, ketampanan dan agama. ditambah satu menurut ulama yaitu tentang konsep KAFA-AH (kepantasan) dalam mencari pasangan. Motivasi terbaik bagi seorang anak dalam mencari pasangan adalah keturunan. Jika menginginkan keturunan yang baik tentu mencari pasangan tidak asal-asalan. Beda halnya jika mencari pasangan berdasarkan Nafsu, berarti seorang anak tidak memikirkan keturunan yang berkelanjutan. Plus jika kuatir mendapatkan pasangan yang buruk maka jodoh tidak akan tertukar karena laki-laki dan perempuan yang baik akan mendapatkan laki-laki dan perempuan yang baik juga, begitupun kebalikannya. lihat QS AN-Nur : 26. Jika kamunya merasa sudah baik namun mendapatkan yang tidak baik maka tugasnya koreksi diri saja, kemungkinan ada ketidakridhoan orang tua atau seluruh amal kebaikan dijadikan Allah sebagai debu yang berterbangan (Al-Furqon : 23). Wallahu A’lam. silahkan tulis pendapatmu. hehe
Terima kasih berkenan membaca.