MUHAMMAD RABUDDIN

Blog Seputar Guru, Siswa, Sekolah dan sisi lain seorang Guru

OPINI

Ketidakrukunan Guru Sangat Berdampak

Ketidakakurunan antar guru dalam satuan pendidikan merupakan realitas yang kerap muncul seiring dengan dinamika kerja profesional di sekolah. Guru datang dari latar belakang pendidikan, pengalaman, karakter, dan pandangan pedagogis yang berbeda-beda. Perbedaan ini pada satu sisi menjadi kekuatan karena memperkaya perspektif pembelajaran, namun pada sisi lain dapat memicu gesekan apabila tidak dikelola dengan komunikasi dan sikap saling menghargai. Ketidakakurunan sering kali berawal dari hal-hal yang tampak sederhana, seperti perbedaan pendapat dalam metode mengajar, pembagian tugas, penilaian kinerja, atau kebijakan sekolah yang dipersepsikan tidak adil.

Dalam praktiknya, ketidakakurunan guru tidak selalu muncul dalam bentuk konflik terbuka. Banyak konflik justru bersifat laten, ditandai dengan komunikasi yang dingin, sikap saling menghindar, berkurangnya kerja sama, hingga munculnya kelompok-kelompok kecil yang eksklusif. Kondisi semacam ini perlahan dapat menciptakan iklim kerja yang tidak sehat. Guru menjadi kurang nyaman dalam berinteraksi, koordinasi antar mata pelajaran melemah, dan semangat kolektif untuk memajukan sekolah menurun. Dampak akhirnya tidak hanya dirasakan oleh guru, tetapi juga oleh peserta didik yang menjadi kurang mendapatkan pembelajaran yang utuh dan harmonis.

Tanggapan terhadap ketidakakurunan guru menuntut kedewasaan profesional dari seluruh pihak. Konflik tidak seharusnya dipandang semata-mata sebagai kesalahan individu, melainkan sebagai gejala organisasi yang perlu ditangani secara bijak. Sikap saling menyalahkan atau membiarkan konflik berlarut-larut justru berpotensi memperbesar masalah. Yang dibutuhkan adalah kesadaran bersama bahwa sekolah merupakan ruang kolaboratif, sehingga setiap persoalan perlu diselesaikan dengan mengedepankan kepentingan pendidikan dan peserta didik.

Resolusi konflik yang efektif berangkat dari komunikasi yang terbuka dan jujur. Guru-guru yang terlibat konflik perlu diberi ruang untuk menyampaikan pandangan dan perasaannya secara proporsional, tanpa tekanan dan intimidasi. Dialog yang sehat membantu masing-masing pihak memahami akar persoalan secara lebih objektif, sekaligus mengurangi prasangka dan emosi negatif. Dalam proses ini, fokus pembicaraan diarahkan pada masalah dan solusi, bukan pada serangan personal atau penilaian subjektif terhadap individu lain.

Peran pimpinan satuan pendidikan menjadi sangat penting dalam proses resolusi konflik. Kepala sekolah dan jajaran manajemen diharapkan mampu bertindak sebagai penengah yang adil, netral, dan berorientasi pada solusi. Melalui pendekatan mediasi, pihak sekolah dapat membantu merumuskan kesepakatan bersama yang dapat diterima oleh semua pihak. Mediasi yang baik tidak bertujuan mencari pihak yang kalah atau menang, melainkan membangun kembali kepercayaan dan hubungan kerja yang profesional.

Lebih jauh, resolusi konflik idealnya tidak berhenti pada penyelesaian masalah sesaat. Sekolah perlu menjadikan pengalaman konflik sebagai bahan refleksi untuk memperkuat budaya organisasi. Penguatan nilai saling menghargai, kerja sama tim, dan komunikasi profesional perlu ditanamkan secara berkelanjutan melalui berbagai kegiatan kolektif. Dengan demikian, ketidakakurunan yang pernah terjadi tidak hanya dapat diselesaikan, tetapi juga menjadi pembelajaran bersama dalam membangun lingkungan pendidikan yang sehat, harmonis, dan berorientasi pada mutu pembelajaran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *