Hari ini saya lagi asyik-asyiknya mengikuti perkembangan berita yang viral yang Informasinya ada di Podcast-nya bang Deni Sumargo. Intinya dalam podcast tersebut tentang seorang anak yang merasa diintimidasi, merasa dikucilkan, pilih kasih, dilecehkan, disumpah serapah, selalu mendengar pertengkaran orang tuanya, mengetahui keburukan orang tua. sehingga berpengaruh pada psikolis anak itu sendiri.
Nama panggilnya KEY. seorang anak yang sudah beranjak dewasa dengan psikologi yang rusak akibat tidak memiliki rasa aman, nyaman dan dihargai di lingkungan keluarganya sendiri. Key adalah anak yang terlahir sebagai anak yang suci tanpa ada noda sedikitpun. Kepribadiannya dibentuk melalui orang-orang terdekatnya yaitu orang tua, saudara, kakek, nenek, paman dan bibinya. Berdasarkan keterangan Key bahwa ia diperlakukan tidak sebagaimana anak kandung, curhatannya tidak didengar, merasa diri sebagai pembantu, dibully di lingkungan keluaga dan sekolah, disumpah serapah, kekerasan fisik dan verbal juga ia alami. bahkan menurut keterangan Key juga ada pelecehan seksual, saat mengadu ke ibu, ibunya tidak percaya bahkan menyalahkan Key.
Konteks dari tulisan ini bukan pada masalah Key, tapi tentang bagaimana pola asuh dan perubahan prilaku Key terhadap dirinya sendiri dan terhadap orang tuanya. Sedari kecil, Key sudah menggunakan obat tidur agar bisa tidur pulas, tujuannya agar tidak mendengar pertengkaran rumah tangga orang tua yang setiap hari ia dengar. setiap ada masalah Key selalu menyakiti dirinya dengan membeset lengannya dengan isi staples dan kaca. Tujuannya untuk mendapatkan kepuasan dan pelampiasan dari rasa yang tidak dimengerti, curhatan yang tidak didengar, perlakuan dan ucapan yang menyakitkan dan tidak ada tempat untuk menyembuhkan kecuali dengan obat dan menyakiti diri sendiri sebagai pelarian. Keesokan harinya, suasana itu terulang lagi hingga ia beranjak dewasa.
Dear wali murid atau orang tua yang memiliki anak. Sejatinya di rumah adalah tempat ternyaman, teraman bagi anak. Di rumah adalah tempat pertama anak dibentuknya kepribadian mengenal hal-hal yang baru dan belajar dari prilaku dan ucapan orang tuanya di rumah. Karena orang tua adalah guru pertama bagi mereka. ketidakharmonisan rumah tangga dengan cara penyelesaian konflik yang tidak tepat dapat merusak mental anak. baik konflik bersama pasangan, keluarga bahkan anak. Tidak ada rumah tangga yang tidak pernah konflik, pasti semua pernah mengalami konflik. bedanya hanya bagaimana cara menyelesaikannya. Penyelesaian konflik yang buruk akan memberikan contoh dan dampak negatif pada anak, Apalagi anak dijadikan pelampiasan dalam konflik rumah tangga maka akan berdampak anak menjadi pendiam, merasa diri sumber konflik, konsentrasi dan rasa aman mereka juga hilang. sebaliknya, jika konflik rumah tangga diselesaikan dengan baik. Tahu memposisikan diri secara proporsional terhadap anak, maka anak akan dapat belajar tentang bagaimana menyelesaikan konflik secara sehat.
Pemahaman anak tentang penyelesaian konflik tentu berbeda-beda, tergantung usia dan kematangan psikologis anak. Maka sebagai orang tua harus benar-benar faham dan mengerti apa dan bagaimana seharusnya dilakukan agar anak benar-benar merasa aman, nyaman di rumah. contoh kasusnya Key, permasalahan orang tua dilampiaskan kepadanya, dampaknya ke psikologis. psikologis rusak maka berdampak pada perubahan ucapan dan tingkah laku yang secara tidak langsung terkesan membangkang kepada orang tuanya. padahal, itu semua sebagai bentuk perlawan Key terhadap orang tua yang ia tidak merasa nyaman, aman saat bersama mereka. oke, saat kecil dia diam dan memendam rasa, saat dewasa anak akan berontak kepada orang tuanya karena anak yang dewasa sudah mengerti untuk bertindak dan mengambil keputusan sendiri.
Maka sebagai orang tua, tidak baik terlalu menuruti kemauan anak dan tidak baik pula terlalu keras dalam mendidik anak. Semua harus proporsional sesuai dengan konteks kebutuhan penyelesian konflik. Tidak semestinya masalah harus diselesaikan dengan cacian dan makian, pukulan. ada sisi konflik terjadi akibat kita yang tidak peka terhadap kebutuhan anak. Kebutuhan anak tidak hanya materil seperti sandang, pangan, papan. Kebutuhan juga ada inmateril seperti merasa dicintai, dihargai, didengarkan, dimengerti, mendapatkan dukungan emotional dengan kata-kata yang baik dan mengapresiasi setiap perubahan baik pada anak itu juga kebutuhan anak. Bisa saja perubahan watak anak yang dulunya pendiam, nurut kemudian saat ia dewasa menjadi pembangkang mungkin saja disebabkan kebutuhan inmaterilnya tidak dipenuhi. Yuk berubah perlahan yang dulunya selalu menghakimi anak, coba sesekali, beberapa kali dan seterusnya menjadi orang tua yang mengapresiasi perubahan baik anak, mengoreksi dengan bahasa kasih dan menjadi contoh yang baik, mendoakan yang baik-baik untuk anak. yakin dan percaya kebaikan akan dibalas kebaikan. jika ini dilakukan sedari anak masih kecil; anak tidak akan kehilangan arah dan mengerti bagaimana menyelesaikan konflik tanpa menimbulkan konflik karena mereka paham dari model orang tuanya dalam menyelesaikan konflik. Jika anak sudah dewasa; berilah contoh yang baik dan berdoalah kepada Allah agar anak kembali menjadi pribadi yang baik, karena anak yang sudah dewasa dan memiliki trauma dalam keluarga maka sulit untuk dirubah kecuali trauma masa lalunya diselesaikan dan kemudian perlahan sembuh dengan meninggalkan bekas. contoh kasus Key.
Oleh karena itu, yuk mulai saat ini dan seterusnya kita berusaha memenuhi kebutuhan materil dan inmateril anak. mudah-mudahan anak bapak ibu sehat jasmani dan rohaninya dan kita semua diberikan kemudahan dalam mendidik anak. AAmiiiin.