Hakikat murid dalam menuntut ilmu bukanlah hanya sekedar menerima ilmu lalu mendapatkan nilai yang sempurna, lebih dari itu menuntut ilmu merupakan kemuliaan yang tidak hanya bernilai di raport semata akan tetapi pengamalan dan perubahan pola pikir, sikap dan ucapan yang menunjukkan bahwa murid adalalah orang yang berilmu yang berpengetahuan. mengetahui antara baik dan buruk, layak dan tidak layak untuk diucapkan dan dilakukan. menjadikan ilmu sebagai pedoman dalam kehidupan.

faktanya, saat ini hampir sebagian murid lebih mengedepankan nilai dari pada etika bagaimana seharusnya ia memperlakukan ilmu dan orang yang membawa (guru). Banyak murid yang tidak menjaga adab bagaimana memperlakukan guru yang memberikan ilmu kepadanya. ucapan yang sering menyinggung perasaan guru, acuh terhadap arahan dan parahnya muncul perasaan benci terhadap guru hingga berujung permusuhan antara murid dan guru. Ketahuilah itu semua dapat memberikan implikasi negatif terhadap perkembangan murid di masa depan. jika demikian maka tidak ada keberkahan ilmu yang didapat. berkah itu bertambahya kebaikan. Ilmu diperoleh, nilai tinggi di raport mungkin diraih karena kebaikan guru, namun ilmu dan nilai yang didapat sedikitpun tidak memberikan kebaikan-kebaikan pada kehidupannya. semakin berilmu maka semakin lupa, semakin berilmu semakin sombong, semakin berilmu semakin merasa diri palign benar dan dibenarkan. itu semua karena hilangnya keberkahan akibat tidak memuliakan guru.

seorang murid sepantasnya memposisikan diri sebagai orang yang butuh ilmu, orang yang meminta dan mengiginkan ilmu karena kata “Murid” berasal dari serapan bahasa arab yaitu orang yang butuh, mau, mengiginkan sesuatu. dari kata serapan tersebut maka murid harus sadar diri bahwa sebagai orang yang miskin jangan berlaga kaya, orang yang lemah jangan berlaga kuat. Logikanya, jika meminta sesuatu tentu dengan kerendahan hati, ucapan yang baik, perilaku yang baik agar keinginan dapat terwujud. murid membutuhkan ilmu, yang memberikan ilmu adalah guru maka mintalah kepada guru dengan kerendahan hati, ucapan yang baik dan perilaku yang baik agar ilmu yang diminta memberikan dampak positif dalam kehidupan.

Rasulullah Saw bersabda tentang memuliakan orang yang lebih tua dan berilmu :

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ

Artinya:

“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang lebih muda, tidak menghormati yang lebih tua, dan tidak mengetahui hak orang alim di antara kami.” Sumber: HR. Ahmad, diriwayatkan dari Ubadah bin Shamit r.a. Redaksi hadis memiliki sejumlah riwayat. orang alim adalah mereka yang mengetahui ilmu.

tugas guru memberikan contoh yang baik, menyangi murid dan memberikan ilmu kepadanya. tugas murid memuliakan guru dan menghormatinya menjalankan semua arahan selama positif untuk kemajuan diri, tidak memberikan gelar atau panggilan yang dapat menyinggung perasaan guru.

dear murid, kunci kesuksesan ada 4 : 1) Taat Allah. 2) Taat Rasul. 3) Taat Orang Tua. 4. Taat Guru.

2 Responses

  1. Bagus keran, mudahan ilmu yg di ajarkan dan bisa mengajar generasi penerusnya. Terutama generasi berikutnya, kite perhatikan asal usul kejadian awalnya, dari orang tua yang tidak mengajarkan ilmu yang baik. untuk generasi sekarang atau calon-calon orang tua juga harus di beri ilmu agar penerus atau anak-anaknya bisa memahami adab yang sudah di ajarkan ke calon orang tua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *